Hubungan PGRI dengan education international (EI)

 

MAKALAH

Hubungan PGRI dengan education international (EI)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ke-PGRI an

Dosen Pengampu : Dr. M. Bayu Firmansyah, S.S M.Pd



Disusun oleh :

1.    Nafisatuzzahro Meilani              (23157201036)

2.    M. Ferry Subadar                        (23157201069)

 

 

UNIVERSITAS PGRI WIRANEGARA

FAKULTAS TEKNOLOGI DAN SAINS

PROGRAM STUDI ILMU KOMPUTER

DESEMBER 2024

 


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang " Hubungan PGRI dengan education international (EI)". Makalah ini dibuat dengan tujuan memenuhi tujuan tugas mata kuliah Ke-PGRI an pada program studi Ilmu Komputer. Penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada bapak Dr. M. Bayu Firmansyah, S.S M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Ke-PGRI an . Tidak lupa, kami mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang sudah memberikan kontribusi berarti dalam penyusunan makalah ini. Kami sadar bahwa kesuksesan makalah ini tidak terlepas dari dukungan yang kami terima dari berbagai pihak.

Sebagai penyusun makalah, kami memahami bahwa setiap karya memiliki ruang untuk perbaikan. Kami menyadari adanya kekurangan, baik dalam penyusunan maupun tata bahasa yang kami sampaikan. Oleh sebab itu, dengan rendah hati, kami mengharapkan masukan yang membangun dari pembaca, sehingga kami dapat mengubah dan mempertajam makalah ini. Kami harap makalah yang kami susun ini tidak hanya menjadi karya ilmiah semata, tetapi juga dapat memberikan manfaat dan inspirasi kepada pembaca.

 

Pasuruan, 17 Desember 2024

 

Penulis


 


DAFTAR ISI

 KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI. 2

BAB I  PENDAHULUAN.. 2

1.1 Latar Belakang. 2

1.2 Rumusan Masalah. 3

1.3 Tujuan Penelitian. 3

BAB II PEMBAHASAN.. 3

2.1 Pengertian PGRI dan Education International (EI) 4

2.2 Hubungan PGRI dengan education international (EI) 4

2.2.1 Tujuan dan manfaat PGRI mengikuti Educational International (EI) 5

2.2.2 Kongres PGRI 6

BAB III PENUTUP.. 8

3.1 Kesimpulan. 8

3.2 Saran. 9

DAFTAR PUSTAKA 

 

 

1.1  Latar Belakang

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) adalah organisasi profesi guru yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan komitmen untuk memperjuangkan hak-hak guru dan memajukan pendidikan nasional, PGRI juga menjalin kerja sama dengan organisasi internasional seperti Education International (EI) untuk memperkuat posisinya dalam konteks global.

Education International (EI) adalah federasi global yang mewakili organisasi guru dan tenaga pendidikan dari berbagai negara. Dengan lebih dari 32 juta anggota di 178 negara, EI bertujuan memperjuangkan hak-hak pendidik, mempromosikan pendidikan berkualitas, dan mendukung keadilan sosial. Sebagai anggota EI, PGRI memiliki peluang untuk berbagi pengalaman, memperluas jaringan, serta ikut membentuk kebijakan pendidikan global.

Salah satu strategi PGRI untuk mencapai visi dan tujuan organisasi adalah melakukan kerjasama intern organisasi dengan masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah, dan organisasi massa lain atau sering disebut hubungan kerjasama PGRI  secara vertikal, horizontal dan bahkan hubungan luar negeri dengan Educational International (EI)  . Adapun prinsip yang digunakan adalah sebagaimana sambutan pengurus besar, untuk efektifitas perjuangan organisasi, pengurus PGRI diharapkan mampu bekerjasama dengan berbagai pihak, baik negeri maupun swasta. Kerjasama dikembangkan dengan prinsip saling menguntungkan untuk kepentingan organisasi dan anggota serta peningkatan mutu pendidikan.

Keanggotaan PGRI dalam EI membawa manfaat signifikan bagi dunia pendidikan Indonesia. Melalui forum internasional yang diadakan EI, PGRI dapat menyuarakan tantangan lokal seperti kesejahteraan guru dan akses pelatihan profesional. Selain itu, PGRI dapat mengadopsi praktik-praktik terbaik dari negara lain untuk meningkatkan sistem pendidikan di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari PGRI dan Education International (EI) ?

2. Apa hubungan PGRI dengan education international (EI)?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui pengertian dari PGRI dan Education International (EI)

2. Mengetahui hubungan PGRI dengan education international (EI)

Berbagai persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan sampai lembaga pendidikan di era globalisasi menuntut tim pekerja  yang solid antara pihak sekolah itu sendiri dengan pihak luar, baik instansi atasan maupun masyarakat. Melalui hubungan kerjasama PGRI antar instansi, maka administrasi hubungan merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama di kedua instansi tersebut.Ketika hubungan PGRI antar instansi  ini dapat berjalan harmonis dan dinamis dengan sifat pedagogis, sosiologis dan produktif, maka diharapkan tercapai tujuan utama yaitu terlaksananya proses pendidikan di kedua wilayah secara produktif, efektif, efisien dan berhasil sehingga menghasilkan out-put yang berkualitas secara inteletual, spritual dan social

2.1 Pengertian PGRI dan Education International (EI)

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) adalah organisasi profesi guru yang berdiri dengan tujuan utama meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagai wadah bagi para pendidik, PGRI berperan dalam memperjuangkan hak-hak guru, mendorong profesionalisme tenaga pendidik, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan pendidikan nasional. Sejak awal berdirinya, PGRI telah menjadi simbol solidaritas para guru dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan di tingkat nasional.

Education International (EI) adalah federasi global yang menghubungkan organisasi guru dan tenaga pendidik dari seluruh dunia. Dengan anggota yang mencapai lebih dari 32 juta dari 178 negara, EI memiliki fokus utama pada perjuangan hak-hak tenaga pendidik, promosi pendidikan berkualitas, dan pendukung keadilan sosial. Sebagai federasi, EI juga mendorong kebebasan akademik dan kolaborasi lintas negara dalam upaya menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Sesuai dengan asas perjuangan nya, PGRI sejak permulaan berdiri nya sampai sekarang  sudah menjalin hubungan kerjasama baik didalam negri maupun di luar negri salah satunya dengan Educational International (EI).Sikap organisasi berkenaan dengan hubungan dengan pihak lain adalah menempatkan sebagai mitra yang kritis. PGRI bukan oposisi pihak manapun. PGRI adalah organisasi besar, berwibawa dan dewasa. Anggotanya kaum cerdik, pandai, terpelajar, dan juga bermartabat. Oleh karena itu organisasi ini dikelola dengan penuh tanggung jawab sesuai amanat organisasi. Untuk efektifitas perjuangn organisasi, pengurus PGRI diharapkan dapat berkerja sama dengan berbagai pihak negeri, maupun swasta.

2.2 Hubungan PGRI dengan education international (EI)

            Educational Internasonal (EI) adalah organisasi serikat Pekerja Pendidikan Tingkat Dunia, yang 25 juta anggotanya mewakili seluruh bidang pendidikan mulai dari pendidikan pra sekolah sampai perguruan tinggi melalui 311 organisasi serikat pekerja tingkat nasional yang tersebar di 159 negara dan wilayah. Di Asia Pasifik, EI mempunyai 68 anggota organisasi di 34 negara, termasuk PGRI. EI mempunyai hubungan kerja dengan UNESCO, termasuk IBE (International Buereau of Edication atau Biro Pendidikan Internasional) serta memiliki status konsultatif dengan United Nation Economics and Social Council (ECOSOC) ataunDewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa Bangsa. Secara khusus, EI bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan bersama dengan WHO, UNAIDS, ILO, World Bank, dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

Hubungan tersebut memberikan kesempatan bagi EI dalam mempromosikan tujuan guru dan pekerja pendidikan di forum internasional dan dalam memberikan masukan dalam diskusi ketika sedang menyusun keputusan tentang kebijakan penting. Program dan anggaran belanja EI diadopsi setiap tiga tahun oleh Kongres Dunia Education International, yang dihadiri  oleh semua organisasi anggota EI dan para pengamat dari organisasi internasional serta lembaga-lembaga antara negara. Resolusi kebijakan EI diadopsi dan Dewan Pimpinan Pusat dipilih di Kongres Dunia yang terakhir diselenggarakan di Jontien, Thailand, pada bulan Juli 2001.

Hubungan antara PGRI dan Education International (EI) didasarkan pada kesamaan visi dalam memperjuangkan hak-hak guru dan meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagai anggota EI, PGRI memiliki akses untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan internasional seperti konferensi, pelatihan, dan forum diskusi yang membahas isu-isu global di bidang pendidikan. Hal ini memungkinkan PGRI untuk membawa isu-isu pendidikan di Indonesia ke tingkat internasional, seperti tantangan kesejahteraan guru, kualitas pembelajaran, dan kesetaraan akses pendidikan.

Melalui kerja sama ini, PGRI juga dapat memanfaatkan pengalaman dan praktik terbaik dari negara-negara lain yang tergabung dalam EI. Dengan berbagi pengetahuan dan solusi, PGRI mampu mengadaptasi pendekatan-pendekatan inovatif untuk diterapkan di Indonesia. Selain itu, EI mendukung PGRI dalam memperkuat advokasi terhadap kebijakan pendidikan nasional yang berorientasi pada hak guru dan peningkatan kualitas pendidikan. Kerja sama ini memberikan keuntungan timbal balik, di mana PGRI tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga kontributor aktif dalam pengembangan kebijakan pendidikan global.

Sekretariat Markas Besar atau Kantor Pusat EI teretak di Brussel Belgia. Kantor-kantor kawasan terletak di Afrika (Lome, Togo), Asia Pasific (Kuala Lumpur, Malaysia), dan Fiki, Eropa (Brussel, Belgia), Amerika Latin (San Jose, Cose Rica) dan Amerika Utara dan Karibia (santalucia). Setiap 3 tahun sekali di tiap-tiap kawasan diselenggarakan Konvereverensi Regional. Secara khusus, EI bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan bersama dengan WHO, UNAIDS, ILO, World Bank, dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). EI dibentuk pada tahun 1993 sebagai hasil penggabungan antara The International Federation of Free Teacher Union (IFFTU) dan The World Confederation of Organizations of The Teaching Profession (WCOTP).

Sekertariat pengurus EI bermarkas di Brussels, Belgia, yang dilengkapi dengan lima departemen yaitu: pendidikan, serikat sekerja, hak asasi manusia dan keadilan, pengembangan kerjasama, informasi dan administrasi. Kantor regional EI bermarkas di Afrika (Lome, Togo), Asia (Kuala Lumpur, Malaysia), Pasifik (Fiji), Eropa (Brussels, Belgia), Amerika Latin (San Jose, Costa Rica), Amerika Utara dan Karibia (ST. Lucia). Konferensi regional diadakan setiap tiga tahun oleh negera-negara anggota EI di kawasan yang bersangkutan untuk menyepakati program dan kegiatan.

Pada tahun 1999, EI mengumpulkan konsorsium yang terdiri dari rekan kerja sama berikut  Lärarförbundet  (Sweden),  Utdanningsförbundet  (Norway),   Japan Teachers’Union (Japan),   Australian Education Union (Australia) dan National Education Association (USA) untuk bekerja sama dengan PGRI untuk menjadi sebuah organisasi guru independen, demokratis dan efektif. Agenda ini dimulai di dua propinsi pada tahun 2000, dan dalam tujuh tahun secara bertahap meningkat menjadi 26 dari 33 provinsi. Program ini terutama menargetkan para pemimpin tingkat provinsi dan kabupaten. Pertemuan diadakan setiap tahun untuk mengevaluasi dan merencanakan setiap tahun berikutnya dengan perwakilan dari organisasi bekerja sama lima.PGRI sekarang memainkan peran aktif dalam gerakan buruh di Indonesia.

2.2.1 Tujuan dan manfaat PGRI mengikuti Educational International (EI)

Educational International (EI) bertujuan untuk melindungi hak profesional dan industrial dari para guru dan pekerja pendidikan, mempromosikan perdamaian, demokrasi, keadilan sosial, dan persatuan kepada seluruh manusia di semua negara, melalui pembangunan pendidikan umum berkualitas bagi semua, memerangi semua bentuk rasialisme dan diskriminasi dalam pendidikan dan masyarakat, memberikan perhatian khusus bagi pembangunan peran kepengurusan dan keterwakilan wanita di masyarakat, dalam profesi mengajar, dan dalam organisasi guru dan pekerja pendidikan, serta memastikan hak-hak kelompok-kelompok yang terlemah seperti masyarakat pribumi, etnik minoritas, migran, dan anak-anak karena EI bertujuan dan bekerja untuk menghapuskan pekerja anak yang merupakan bagian penting dari hak asasi manusia.

Selain itu juga ada beberapa tujuan PGRI mengikuti organisasi ini  adalah :

1.  Memperkuat PGRI sebagai serikat pekerja guru.

2.  Membuat organisasi yang lebih demokratis, independen, transparan dan berkelanjutan.

PGRI mengikutsertakan dirinya dalam organisasi ini tentu memperoleh manfaat:

1. Membuat kesadaran serikat buruh, good governance, transparansi dan akuntabilitas di semua tingkat organisasi.

2. Untuk mendapatkan alokasi anggaran 20% oleh pemerintah untuk pendidikan di Tingkat nasional dan daerah untuk dapat membahas masalah yang dihadapi oleh pendidikan, guru, anak-anak, dan untuk mencapai pendidikan berkualitas untuk semua.

3. Mempromosikan partisipasi perempuan dan pemimpin muda dalam proses pengambilan keputusan dan semua kegiatan serikat.

4. Dibuat kolam pelatih terampil di tingkat kabupaten dan propinsi.

5. Berkaitan dengan keuangan organisasi dan membuat organisasi mandiri secara finansial.

6.  Peningkatan proses komunikasi dalam organisasi antara tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.

2.2.2 Kongres PGRI  

Dalam organisasi ini, setidaknya 1.440 pemimpin dan anggota aktif dari 28 provinsi akan memiliki kesadaran dan pemahaman tentang hak dan tanggung jawab sebagai agen perubahan baik sebagai guru dan anggota serikat serta keterampilan untuk bernegosiasi dengan masing-masing kabupaten, provinsi dan pemerintah nasional untuk meningkatkan anggaran Pendidikan. Keikutsertaan PGRI dalam organisasi ini dapat dibuktikan dengan lima tahun sekali Kongres PGRI berhasil dilakukan, diantaranya  di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, ditangani oleh Presiden Republik Indonesia dan Sekretaris Jenderal Pendidikan Internasional. Pidato Fred Van Leeuwen sangat menyentuh penonton termasuk presiden negara itu.

Hal itu membuat presiden mengubah pidatonya di tempat, dengan menambahkan instruksi untuk semua departemen dan semua otoritas pemerintah di semua tingkatan di seluruh Indonesia untuk bekerja sama untuk mencapai kualitas Pendidikan untuk Semua dan meningkatkan kesejahteraan dan status guru. Dia mengucapkan terima kasih EI untuk pekerjaan yang baik dan dukungan dan berjanji bahwa ia akan memenuhi daya tarik para guru. Kongres PGRI diubah Konstitusi dan Anggaran dengan menyatakan bahwa setidaknya 30% dari para pemimpin haruslah perempuan. Kongres PGRI diubah Konstitusi dan Oleh-Undang-Undang tentang iuran keanggotaan untuk meningkatkan jumlah iuran oleh tiga kali. Perubahan konstitusi selalu menjadi topik penting dalam semua EI-PGRI-Konsorsium Seminar Proyek.

Pada 13 Agustus 2008 Mahkamah Konstitusi memenangkan kasus PGRI untuk meniadakan hukum Taurat Tahun Republik Indonesia Nomor 16 2008 tentang APBN dan pengeluaran, yang melanggar Konstitusi Indonesia 1945 banding Konstitusi MK kepada pemerintah untuk menyediakan setidaknya 20% dari anggaran (nasional, propinsi, kabupaten) oleh terbaru tahun 2009. Kemudian pada 15 Agustus 2008Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, dalam menangani laporan resminya dan pernyataan pemerintah pada APBN dan Belanja Merencanakan menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan mengalokasikan dalam APBN dan Rencana Pengeluaran untuk tahun 2009, untuk memenuhi anggaran pendidikan 20% dari rencana anggaran 2009.

Pada tahun 2009 serangkaian kegiatan yang dilaksanakan. Rapat evaluasi dan perencanaan diadakan di Jakarta, pada bulan Februari. Setelah pertemuan ini, serangkaian 32 3 hari seminar provinsi diselenggarakan dari bulan Juni sampai November di Ambon, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Timur Nusa Tenggara, Gorontalo, Jakarta, Jambi, Lampung, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat dan Yogyakarta. Setiap seminar dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai kabupaten di provinsi. Diantara topik yang dibahas adalah: Prinsip Dagang Uni; Pendidikan Internasional struktur dan program; Kepemimpinan; Proses Pengambilan Keputusan; Uni Keuangan; PGRI dan Konstitusinya; UU Guru dan Dosen; Negosiasi dan Perundingan Kolektif. Selain dari seminar, untuk memperkuat kondisi keuangan PGRI, anggota mengumpulkan iuran, untuk 3 mata kuliah khusus tentang Keuangan diadakan di Jakarta pada bulan November dan Desember 2009. PGRI Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengadakan seminar kerjasama dengan Education International pada tanggal 7 sampai 9 Agustus 2009 dengan tema Pemantapan PGRI sebagai Serikat Pekerja Guru dan Peranannya dalam Pembangunan Pendidikan.

 

 

3.1 Kesimpulan

            Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa PGRI sebagai organisasi pejuang pendidik dan pendidik pejuang selalu berusaha menjalin serta mengembangkan kemitraan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak, bahkan PGRI sudah menjalin hubungan secara internasional. Dan salah satu strategi PGRI untuk mencapai visi dan tujuan organisasi adalah melakukan kerjasama dengan Education International.

Educational International (EI) bertujuan untuk melindungi hak profesional dan industrial dari para guru dan pekerja pendidikan, mempromosikan perdamaian, demokrasi, keadilan sosial, dan persatuan kepada seluruh manusia di semua negara, melalui pembangunan pendidikan umum berkualitas bagi semua.Educational International mempunyai hubungan kerja dengan UNESCO,  termasuk IBE ( International Bereau of Education atau Biro Pendidikan Internasional) serta memiliki status konsultatif dengan United Nation Economics and Social Council (ECOSOC) atau Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hubungan tersebut memberikan kesempatan bagi EI dalam mempromosikan tujuan guru dan pekerja pendidikan di forum internasional dan dalam memberikan masukan dalam diskusi ketika sedang menyusun keputusan tentang kebijakan penting.

3.2 Saran

Untuk memperkuat hubungan antara PGRI dan Education International (EI), PGRI perlu memanfaatkan jaringan EI untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi para guru melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan lokal. Selain itu, PGRI sebaiknya aktif menyuarakan isu-isu pendidikan Indonesia di forum internasional EI, sehingga tantangan yang dihadapi guru di Indonesia dapat menjadi perhatian global dan memperoleh dukungan internasional.

Selain itu, rekomendasi dari EI perlu diadaptasi agar sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Kolaborasi dengan organisasi pendidikan dari negara lain yang menjadi anggota EI juga dapat membantu PGRI untuk mengadopsi praktik-praktik terbaik yang relevan. Pemanfaatan teknologi informasi untuk penyebaran program EI ke seluruh wilayah Indonesia akan menjadi langkah strategis untuk menjangkau lebih banyak pendidik dan meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

 

DAFTAR PUSTAKA

SH, Taruna.dkk. 2007. Pendidikan Sejarah Perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia.

Semarang:IKIP PGRI SEMARANG PRESS

http://dw-arif-n.blogspot.com/2010/01/7-cara-membangun-hubungan-kerjasama.html

http://gemapgrinews.blogspot.com/2009/08/peran-pgri-bagi-guru-dan-pembangunan.html

https://nurlailtulazulfa.wordpress.com/2012/12/27/makalah-hubungan-dan-kerjasama-pgri-dengan-pihak-lain/

Komentar